BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mencari ilmu adalah suatu keharusan yang harus dijalani oleh semua
lapisan masyarakat di muka bumi ini, guna bekal kehidupan di dunia (dan
akhirat).yang berawal ketika masih dalam kandungan bahkan ketika belum terbentuknya
janin kita sesuai dengan Q.S.Al-Baqoroh:129 .
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولا
مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (البقرة :١٢۹)
Artinya: “Ya
Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan
membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan
mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunah) serta
menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana”. (Q.S. Al-Baqarah: 129)
B. Rumusan Masalah
Dengan adanya latar belakang yang telah disebutkan maka penulis
merumuskan permasalahan yang harus dibahas yakni:
1.
Pentafsiran Q.S.Al-Baqoroh:129 .
2. Analisis
Q.S.Al-Baqoroh:129 .
BAB II
PEMBAHASAN
A. Tafsir Al-Quran Surat Al-Baqarah Ayat: 129
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولا
مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (البقرة :١٢۹)
Artinya: “Ya
Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan
membacakan kepada mereka ayat-ayat
Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah
(As-Sunah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana”. (Q.S. Al-Baqarah: 129)
1. Tahlilul Lafdzi
[ربنا وابعث
فيهم] أي أهل البيت
[رسولاً
منهم] من أنفسهم ،
وقد أجاب الله دعاءه بمحمد صلى الله عليه وسلم
[يتلو عليهم
آياتك] القرآن
[ويعلمهم
الكتاب] القرآن
[والحكمة] أي ما فيه من
الأحكام
[ويزكيهم] يطهرهم من
الشرك
[إنك أنت
العزيز] الغالب
[الحكيم] في صنعه[1][1]
2. Asbab al-Nuzul
Ayat tersebut mengisahkan dua nabi besar yaitu Ibrahim
dan Ismail yang ditugaskan oleh Allah untuk membangun kembali baitullah. Nabi
Ibrahim berkata kepada Ismail: "Wahai Ismail, sesungguhnya Allah SWT
memerintahkan padaku suatu perintah" ketika datang perintah pada Nabi
Ibrahim untuk menyembelihnya, beliau menjelaskan kepadanya persoalan itu dengan
gamblang. Dan sekarang ia hendak mengemukakan perintah lain yang sama agar ia
mendapatkan keyakinan bahwa Ismail akan membantunya. Kita di hadapan perintah
yang lebih penting daripada penyembelihan. Perintah yang tidak berkenaan dengan
pribadi nabi tetapi berkenaan dengan makhluk.
Ismail berkata: "Laksanakanlah apa yang
diperintahkan Tuhanmu padamu." Nabi Ibrahim berkata: "Apakah
engkau akan membantuku?" Ismail menjawab: "Ya, aku akan
membantumu." Nabi Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah SWT
memerintahkan aku untuk membangun rumah di sini." Nabi Ibrahim
mengisyaratkan dengan tangannya dan menunjuk suatu bukit yang tinggi di sana.
Selesailah pekerjaan itu. Perintah itu telah
dilaksanakan dengan berdirinya Baitullah yang suci. Itu adalah rumah yang
pertama kali dibangun untuk menusia di bumi. Ia adalah rumah pertama yang di
dalamnya manusia menyembah Tuhannya. Dan karena Nabi Adam adalah manusia yang
pertama turun ke bumi, maka keutamaan pembangunannya kembali padanya. Para
ulama berkata: "Sesungguhnya Nabi Adam membangunnya dan ia melakukan
thawaf di sekelilingnya seperti para malaikat yang tawaf di sekitar arsy Allah
SWT.
Allah SWT tidak menceritakan kepada kita tentang waktu
pembangunan Ka'bah. Allah SWT hanya menceritakan perkara yang lebih penting dan
lebih bermanfaat. Dia menceritakan tentang kesucian jiwa orang-orang yang
membangunnya dan doa mereka saat membangunnya:
$uZ/u ö@¬7s)s? !$¨YÏB ( y7¨RÎ) |MRr& ßìÏJ¡¡9$# ÞOÎ=yèø9$# ÇÊËÐÈ
"Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami),
sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". (QS.
al-Baqarah: 127)
3. Pendapat Ulama’ Tafsir
a.
Imam As-Sa’dy:
فبعزتك وحكمتك، ابعث فيهم هذا الرسول. فاستجاب الله لهما، فبعث الله
هذا الرسول الكريم،
الذي رحم الله به ذريتهما خاصة، وسائر الخلق
عامة، ولهذا قال عليه الصلاة والسلام: "أنا دعوة أبي إبراهيم " .
[2]
[2]
Menurut beliau Allah menghendaki apa yang menjadi do’a
nabi Ibrohim pada waktu itu yakni ingin mempunyai keturunan yang menjadi
panutan (pendidik) yakni yang menyampaikan ajaran-ajaran agama Nabi Ibrohim
berdasarkan Al-Quran danAs-Sunnah. Maka dengan doa beliaulah terdapat banyak keturunan Nabi Ibrohim yang
menjadi utusan Allah.
b. Imam Al-Qaththan
قد أجاب الله دعاءهما
وأرسل فيهم محمداً عليه الصلاة والسلام من ذرّية اسماعيل ، فكوّن من العرب
بفضل الاسلام أُمة كانت خير الأمم .[3]
Menurut beliau Allah menghendaki apa yang menjadi do’a
nabi Ibrohim dan Nabi Ismail, dengan memberi keturunan seorang Nabi Muhammad
yang mana merupakan keturunan dari Nabi Ismail. Selain daripada itu beliaulah
yang mampu menjadikan masyarakat Arab sebagai umat Islam yang utama yakni
merupakan sebaik-baiknya umat.
c. Imam
Asy-sya’rowi
beliau berpendapat sama yakni Allah menghendaki apa
yang menjadi do’a nabi Ibrohim dan Nabi Ismail, pada waktu itu yakni ingin
mempunyai keturunan yang menjadi panutan (pendidik) yakni menyampaikan
ajaran-ajaran agama Nabi Ibrohim berdasarkan Al-Quran danAs-Sunnah. Namun yang berbeda dari pendapat beliau adalah
terdapat penjelasan bahwasanya belajar atau menuntut ilmu adalah mengetahui
arti serta makna yang dikandungnya dan mengetahui asal muasal hal tersebut.
أما
التعليم فهو أن تعرف معناها وما جاءت به لتطبقه وتعرف من أين جاءت .[4]
B. Analisis
Al-Quran Surat
Al-Baqarah Ayat: 129
Ini adalah doa Nabi
Ibrahim dan Nabi Ismail yang ketiga dan yang terakhir di sela-sela kesibukannya
menyelesaikan renovasi dan pemugaran Ka’bah. Kandungan doa ini hanya satu
macam, tapi agaknya ke sinilah semua doa sebelumnya bermuara. Yaitu, kedua nabi
besar ini meminta agar di tengah-tengah masyarakat baru yang dibentuknya suatu
saat di-bi’tsa (dibangkitkan) seorang rasul dari kalangan mereka
sendiri; maksudnya, dari kalangan ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya
yang bermukim di tempat itu.
Doa ini mengisyaratkan
bahwa dari rumpun ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya akan ada satu
garis yang terjaga kesuciannya, yang tidak melakukan kezaliman, yang kelak akan
melahirkan buah kerasulan, yang akan menghidupkan kembali مِّلَّة (millah) yakni agama
nabi Ibrahim, memurnikan manasik-nya, dan mengimami أُمَّةً مُّسْلِمَةً (ummatan muslimatan,
Umat Muslim). Di sinilah kita bisa dengan mudah memahami kenapa ada doa
pertobatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail di ujung doanya di ayat sebelumnya
(128).
Rupanya, doa itu adalah
pagar terhadap generasi demi generasi agar garis tersebut benar-benar terjaga.
Metoda penjagaan dan keterjagaan inilah yang Allah hendak sampaikan saat menceritakan
prosesi kelahiran Nabi Isa dari seorang wanita suci bernama Maryam yang juga
merupakan ‘hasil’ penjagaan dari generasi sebelumnya, yakni Keluarga Imran.
Dalam Al-Quran surat Ali Imron Ayat 35-37 dan 47
$O!9# øÎ) ÏMs9$s% ßNr&tøB$# tbºtôJÏã Éb>u ÎoTÎ) ßNöxtR s9 $tB Îû ÓÍ_ôÜt/ #Y§ysãB ö@¬7s)tGsù ûÓÍh_ÏB ( y7¨RÎ) |MRr& ßìÉK¡¡9$# ÞOÎ=yèø9$# ÇÌÎÈ $£Jn=sù $pk÷Jyè|Êur ôMs9$s% Éb>u ÎoTÎ) !$pkçJ÷è|Êur 4Ós\Ré& ª!$#ur ÞOn=÷ær& $yJÎ/ ôMyè|Êur }§øs9ur ãx.©%!$# 4Ós\RW{$%x. ( ÎoTÎ)ur $pkçJø£Jy zOtötB þÎoTÎ)ur $ydäÏãé& Î/ $ygtGÍhèur z`ÏB Ç`»sÜø¤±9$# ÉOÅ_§9$# ÇÌÏÈ $ygn=¬6s)tFsù $yg/u @Aqç7s)Î/ 9`|¡ym $ygtFt7/Rr&ur $·?$t6tR $YZ|¡ym $ygn=¤ÿx.ur $Ìx.y ( $yJ¯=ä. @yzy $ygøn=tã $Ìx.y z>#tósÏJø9$# yy`ur $ydyZÏã $]%øÍ ( tA$s% ãLuqöyJ»t 4¯Tr& Å7s9 #x»yd ( ôMs9$s% uqèd ô`ÏB ÏZÏã «!$# ( ¨bÎ) ©!$# ä-ãöt `tB âä!$t±o ÎötóÎ/ A>$|¡Ïm ÇÌÐÈ ôMs9$s% Éb>u 4¯Tr& ãbqä3t Í< Ó$s!ur óOs9ur ÓÍ_ó¡|¡ôJt ×|³o0 ( tA$s% Å7Ï9ºx2 ª!$# ß,è=÷t $tB âä!$t±o 4 #sÎ) #Ó|Ós% #\øBr& $yJ¯RÎ*sù ãAqà)t ¼çms9 `ä. ãbqä3usù ÇÍÐÈ
35.
(ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku
menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh
dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). karena itu terimalah (nazar) itu dari
padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui".
36.
Maka tatkala isteri 'Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya
Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih
mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak
perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon perlindungan
untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada
syaitan yang terkutuk."
37.
Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan
mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya
pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati
makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu
memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi
Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang
dikehendaki-Nya tanpa hisab.
47.
Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, Padahal
aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun." Allah berfirman
(dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang
dikehendaki-Nya. apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, Maka Allah hanya
cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah Dia.
B. Nilai-Nilai Pendidikan
yang Terkandung
Ayat
diatas mengandung penjelasan bahwasanya
perlu adanya usaha lahir maupun bathin dalam membentuk generasi baru
diantaranya yakni menghias diri dengan amal sholihah dengan diimbangi usaha
memohon kepada allah SWT untuk diberi keturunan yang memegang teguh ajarannya.
Dalam sistem
pendidikan ayat tersebut mengandung variabel-variabel dari kegiatan belajar
mengajar yaitu:
1. Pendidik
Dalam ayat tersebut, yang berperan sebagai pendidik adalah Rasul.[5][2] Di sini Allah
menggunakan kata يُعَلِّمُهُم (yu’allimuɦum), yang artinya “mengajarkan kepada
mereka”. Yang perlu kita garisbawahi di sini ialah kata يُعَلِّم (yu’allimu)-nya.
Karena ini menunjukkan bahwa, dalam kaitannya dengan Kitab Suci, ‘profesi’
rasul ialah sebagai guru dalam seluruh pengertiannya (mengajarkan,
mencontohkan, menuntunkan cara penerapannya), persis ‘profesi’.
2. Peserta Didik
Peserta didik yang ada dalam ayat tersebut adalah umat nabi Muhammad SAW.
Dimana Rasul akan mengajarkan orang-orang yang ummi (yang tidak mengerti baca
tulis), menuntun orang-orang yang sesat kejalan kebaikan, dan menegakkan
kebenaran di seluruh alam semesta.[6][3]
3. Metode Pendidikan
Metode pendidikan
terdapat pada, يَتْلُو عَلَيْهِمْ
آيَاتِكَ (yatlŭw ‘alayɦim āyātika,
menelaahkan kepada mereka ayat-ayat-Mu). Kata يَتْلُو (yatlŭw,
menelaahkan) bermakna menguraikan sedemikian rupa sehingga penerima bisa
memahaminya dengan benar, jadi bukan sekedar membacakan atau menyampaikan. Di
Surat Yusuf ayat 108 dikatakan عَلَى بَصِيرَةٍ (‘alā bashĭyratin),
dengan argumen yang bisa diterima oleh bashĭrah, oleh cernaan nalar
insani atau akal budi (baik melalui telaah intelektual ataupun melalui serapan
spiritual), sehingga penerima tidak punya celah untuk ‘lari’. Sehingga yang
menolak, benar-benar hanyalah mereka yang tertutup pintu hati dan pikirannya;
dan karenanya pantas disebut “kafir” (sengaja ingkar).
Jadi, pada ayat tersebut, metode pendidikan yang digunakan adalah dengan
membacakan, mengajarkan, dan menyucikan (melarang mereka dari perbuatan dosa
dan kejahatan).
4. Materi pendidikan
Dalam ayat tersebut apa
yang ditelaahkan atau yang diajarkan? Jawabannya: آيَاتِكَ (āyātika),
ayat-ayat, tanda-tanda, petunjuk-petunjuk, atau alamat-alamat yang mengantarkan
penerima mengenal dan memahami hakikat “ayat” tersebut dan hubungan
singkronitasnya dengan Pemilik “ayat” alias Penciptanya. Dari sini diharapkan
muncul kesadaran bertingkat, sesuai dengan kadar mujahadah dan martabat
ruhani yang telah dicapainya. Untuk kalangan pemula (al-mubtadi), timbul
pemahaman bahwa betul-betul لامعبودالاالله (lā ma’bŭwda illallaɦ, tidak ada yang pantas
diibadahi selain Allah). Sementara untuk kalangan menengah (al-mutawassith),
mereka sudah sampai pada faham bahwa bukan saja tidak ada yang pantas diibadahi
selain Allah, tapi juga لامقصودالاالله (lā maqshŭwda illallaɦ, tidak ada yang pantas
dituju selain Allah). Dan kalangan pemilik martabat paling tinggi (al-muntaɦā)
sudah meyakini bahwa الاالله لامحبوب (lā mahbŭwba illallaɦ, tidak ada yang pantas
dicintai selain Allah).
5. Media Pendidikan
Media pendidikan
terdapat pada, وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ (wa yu’allimuɦumul-kitāba wal-hikmah, dan
mengajarkan kepada mereka Kitab Suci dan Hikmah). Beranjak dari kesadaran
teologis setelah ‘menyaksikan’ tanda-tanda kebesaran Allah, setelah meyakini
keberadaan-Nya, dan merasakan sentuhan-Nya, Rasul kemudian mengajari mereka
Kitab Suci. Ini penting. Karena bagaimana mungkin seseorang meyakini Kitab Suci
sebagai ‘wejangan’ Tuhan kalau pada saat yang sama yang bersangkutan tidak
meyakini adanya Tuhan. Bisa diformulasikan begini: “Daya serap seseorang
terhadap Kitab Suci berbanding lurus dengan kesadaran teologis orang itu.”
Semakin sempurna kesadaran teologis seseorang semakin sempurna pula fahamannya
terhadap Kitab Suci. Begitu juga sebaliknya. Jadi, media pendidikan yang ada dalam ayat tersebut adalah al-Kitab
(al-Quran), dan al-Hikmah (Al-Sunnah).
6. Kurikulum Pendidikan
Doanya singkat. Namun
yang agak panjang disebutkan di dalamnya ialah tugas dari rasul tersebut. Ada
tiga tugas pokok seorang rasul: menelaahkan kepada manusia ayat-ayat Allah,
mengajarkan kepada mereka Kitab Suci dan Hikmah, dan mensucikan mereka. Di
beberapa ayat (2:151, 3:164, dan 62:2) susunan ini dibalik, dengan menempatkan
“mensucikan mereka” pada urutan kedua setelah “menelaahkan kepada manusia
ayat-ayat Allah”. Susunan ini sekaligus semacam kurikulum yang memuat tema-tema
pokok yang harus dilakukan oleh seorang rasul (atau pengganti pelaksana rasul,
termasuk para ustad dan muballigh) karena sejalan dengan tuntutan fithrah
manusia, sejalan dengan alur pertanyaan intelektual, sejalan dengan hasrat
kerinduan spiritual.
7. Tujuan Pendidikan
Dalam ayat tersebut, tujuan pendidikan yang hendak dicapai adalah untuk
memberikan pemahaman tentang ajaran-ajaran yang ada dalam al-Quran dan
al-Sunnah. Yaknitepat pada lafadz: آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
وَيُزَكِّيهِمْ (membacakan
kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al
Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunah) serta menyucikan mereka.)
BAB III
KESIMPULAN
·
Memohon
keturunan yang sholeh
·
Terdapat
variabel belajar mengajar yaitu:
1.
Pendidik
Dalam ayat tersebut, yang berperan sebagai pendidik adalah Rasul. Di sini Allah menggunakan kata يُعَلِّمُهُم (yu’allimuɦum),
yang artinya “mengajarkan kepada mereka umat nabi Muhammad SAW.
2.
Peserta Didik
Peserta didik yang ada dalam ayat tersebut adalah umat nabi Muhammad SAW.
Dimana Rasul akan mengajarkan orang-orang yang ummi (yang tidak mengerti baca
tulis), menuntun orang-orang yang sesat kejalan kebaikan, dan menegakkan
kebenaran di seluruh alam semesta.
3.
Metode Pendidikan
Pada ayat tersebut, metode pendidikan yang digunakan adalah dengan
membacakan, mengajarkan, dan menyucikan (melarang mereka dari perbuatan dosa
dan kejahatan).
4.
Materi pendidikan
Materi pendidikannya
adalah ayat-ayat, tanda-tanda, petunjuk-petunjuk yang terdapat dalam al-Quran
dan al-Sunnah.
5.
Media Pendidikan
Media pendidikan
terdapat pada, وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ (wa yu’allimuɦumul-kitāba wal-hikmah, dan
mengajarkan kepada mereka Kitab Suci dan Hikmah).
6.
Kurikulum Pendidikan
Susunan kurikulum yang
memuat tema-tema pokok yang harus dilakukan oleh seorang rasul (atau pengganti
pelaksana rasul, termasuk para ustad dan muballigh) karena sejalan dengan
tuntutan fithrah manusia, sejalan dengan alur pertanyaan intelektual, sejalan
dengan hasrat kerinduan spiritual.
DAFTAR PUSTAKA
Aidh al-Qarni. 2007. Tafsir Muyassar (tarj. Tim Qisthi Press 2007).
Jakarta: Qisthi Press.
Ibnu Katsir. Tafsir al-Qur’an al-‘adzim.
Jalaludin Al-Suyuthi. Tafsir Jalalain.
Sayyid Qutb. 2000. Tafsir
fi Zilalil Quran (tarj. As’ad Yasin, dkk). Jakarta: Gema Insani.
الكتاب : تيسير الكريم الرحمن في تفسير كلام المنان
المؤلف : عبد الرحمن بن ناصر بن
السعدي المحقق : عبد الرحمن بن معلا
اللويحق الناشر : مؤسسة الرسالة الطبعة
: الأولى 1420هـ -2000 م
عدد الأجزاء : 1 مصدر
الكتاب : موقع مجمع الملك فهد لطباعة المصحف الشريف [ ترقيم الكتاب موافق للمطبوع ، والصفحات مذيلة بحواشي المحقق ] www.qurancomplex.com
الكتاب : تفسير الشعراوي
تفسير القطان الكتاب :
[1][1] Jalaludin Al-Suyuthi, Tafsir
Jalalain,
[2] الكتاب
: تيسير الكريم الرحمن في تفسير كلام المنان المؤلف
: عبد الرحمن بن ناصر بن السعدي المحقق
: عبد الرحمن بن معلا اللويحق الناشر
: مؤسسة الرسالة الطبعة
: الأولى 1420هـ -2000 م عدد
الأجزاء : 1 مصدر
الكتاب : موقع مجمع الملك فهد لطباعة المصحف الشريف [ ترقيم الكتاب موافق للمطبوع ، والصفحات مذيلة
بحواشي المحقق ]
www.qurancomplex.com
[3]. :69
تفسير القطان- ص
[4] 351 ص: الكتاب
: تفسير الشعراوي
[5][2] ‘Aidh al-Qarni, Tafsir Muyassar
(tarj. Tim Qisthi Press 2007), Jakarta: Qisthi Press, h. 97.
[6][3] Sayyid Qutb, Tafsir fi Zilalil
Quran (tarj. As’ad Yasin, dkk. 1421 H/2000 M)Jakarta: Gema Insani, h. 139-140
Tidak ada komentar:
Komentar baru tidak diizinkan.