Sabtu, 07 Maret 2015

variabel pendidikan dalam Al-Qur'an


BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Mencari ilmu adalah suatu keharusan yang harus dijalani oleh semua lapisan masyarakat di muka bumi ini, guna bekal kehidupan di dunia (dan akhirat).yang berawal ketika masih dalam kandungan bahkan ketika belum terbentuknya janin kita sesuai dengan Q.S.Al-Baqoroh:129 .

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (البقرة :١٢۹)

Artinya: “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Q.S. Al-Baqarah: 129)



B.  Rumusan Masalah

Dengan adanya latar belakang yang telah disebutkan maka penulis merumuskan permasalahan yang harus dibahas yakni:

1. Pentafsiran  Q.S.Al-Baqoroh:129 .      

2. Analisis Q.S.Al-Baqoroh:129 .

       













BAB II

PEMBAHASAN

      A.  Tafsir Al-Quran Surat Al-Baqarah Ayat: 129



رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (البقرة :١٢۹)

Artinya: “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Q.S. Al-Baqarah: 129)





1. Tahlilul Lafdzi

[ربنا وابعث فيهم] أي أهل البيت

[رسولاً منهم] من أنفسهم ، وقد أجاب الله دعاءه بمحمد صلى الله عليه وسلم

[يتلو عليهم آياتك] القرآن

[ويعلمهم الكتاب] القرآن

[والحكمة] أي ما فيه من الأحكام

[ويزكيهم] يطهرهم من الشرك

[إنك أنت العزيز] الغالب

[الحكيم] في صنعه[1][1]

2.    Asbab al-Nuzul

Ayat tersebut mengisahkan dua nabi besar yaitu Ibrahim dan Ismail yang ditugaskan oleh Allah untuk membangun kembali baitullah. Nabi Ibrahim berkata kepada Ismail: "Wahai Ismail, sesungguhnya Allah SWT memerintahkan padaku suatu perintah" ketika datang perintah pada Nabi Ibrahim untuk menyembelihnya, beliau menjelaskan kepadanya persoalan itu dengan gamblang. Dan sekarang ia hendak mengemukakan perintah lain yang sama agar ia mendapatkan keyakinan bahwa Ismail akan membantunya. Kita di hadapan perintah yang lebih penting daripada penyembelihan. Perintah yang tidak berkenaan dengan pribadi nabi tetapi berkenaan dengan makhluk.

Ismail berkata: "Laksanakanlah apa yang diperintahkan Tuhanmu padamu." Nabi Ibrahim berkata: "Apakah engkau akan membantuku?" Ismail menjawab: "Ya, aku akan membantumu." Nabi Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah SWT memerintahkan aku untuk membangun rumah di sini." Nabi Ibrahim mengisyaratkan dengan tangannya dan menunjuk suatu bukit yang tinggi di sana.

Selesailah pekerjaan itu. Perintah itu telah dilaksanakan dengan berdirinya Baitullah yang suci. Itu adalah rumah yang pertama kali dibangun untuk menusia di bumi. Ia adalah rumah pertama yang di dalamnya manusia menyembah Tuhannya. Dan karena Nabi Adam adalah manusia yang pertama turun ke bumi, maka keutamaan pembangunannya kembali padanya. Para ulama berkata: "Sesungguhnya Nabi Adam membangunnya dan ia melakukan thawaf di sekelilingnya seperti para malaikat yang tawaf di sekitar arsy Allah SWT.

Allah SWT tidak menceritakan kepada kita tentang waktu pembangunan Ka'bah. Allah SWT hanya menceritakan perkara yang lebih penting dan lebih bermanfaat. Dia menceritakan tentang kesucian jiwa orang-orang yang membangunnya dan doa mereka saat membangunnya:

$uZ­/u ö@¬7s)s? !$¨YÏB ( y7¨RÎ) |MRr& ßìŠÏJ¡¡9$# ÞOŠÎ=yèø9$# ÇÊËÐÈ  

"Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". (QS. al-Baqarah: 127)

3. Pendapat Ulama’ Tafsir

a.       Imam As-Sa’dy:

 فبعزتك وحكمتك، ابعث فيهم هذا الرسول. فاستجاب الله لهما، فبعث الله هذا الرسول الكريم،

 الذي رحم الله به ذريتهما خاصة، وسائر الخلق عامة، ولهذا قال عليه الصلاة والسلام: "أنا دعوة أبي إبراهيم " .
[2]

Menurut beliau Allah menghendaki apa yang menjadi do’a nabi Ibrohim pada waktu itu yakni ingin mempunyai keturunan yang menjadi panutan (pendidik) yakni yang menyampaikan ajaran-ajaran agama Nabi Ibrohim berdasarkan Al-Quran danAs-Sunnah. Maka dengan doa beliaulah  terdapat banyak keturunan Nabi Ibrohim yang menjadi utusan Allah.

b. Imam Al-Qaththan

قد أجاب الله دعاءهما وأرسل فيهم محمداً عليه الصلاة والسلام من ذرّية اسماعيل ، فكوّن من العرب

 بفضل الاسلام أُمة كانت خير الأمم .[3]

Menurut beliau Allah menghendaki apa yang menjadi do’a nabi Ibrohim dan Nabi Ismail, dengan memberi keturunan seorang Nabi Muhammad yang mana merupakan keturunan dari Nabi Ismail. Selain daripada itu beliaulah yang mampu menjadikan masyarakat Arab sebagai umat Islam yang utama yakni merupakan sebaik-baiknya umat.

    c. Imam Asy-sya’rowi

beliau berpendapat sama yakni Allah menghendaki apa yang menjadi do’a nabi Ibrohim dan Nabi Ismail, pada waktu itu yakni ingin mempunyai keturunan yang menjadi panutan (pendidik) yakni menyampaikan ajaran-ajaran agama Nabi Ibrohim berdasarkan Al-Quran danAs-Sunnah. Namun  yang berbeda dari pendapat beliau adalah terdapat penjelasan bahwasanya belajar atau menuntut ilmu adalah mengetahui arti serta makna yang dikandungnya dan mengetahui asal muasal hal tersebut.

أما التعليم فهو أن تعرف معناها وما جاءت به لتطبقه وتعرف من أين جاءت .[4]

  

B.  Analisis Al-Quran Surat Al-Baqarah Ayat: 129

Ini adalah doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang ketiga dan yang terakhir di sela-sela kesibukannya menyelesaikan renovasi dan pemugaran Ka’bah. Kandungan doa ini hanya satu macam, tapi agaknya ke sinilah semua doa sebelumnya bermuara. Yaitu, kedua nabi besar ini meminta agar di tengah-tengah masyarakat baru yang dibentuknya suatu saat di-bi’tsa (dibangkitkan) seorang rasul dari kalangan mereka sendiri; maksudnya, dari kalangan ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya yang bermukim di tempat itu.

Doa ini mengisyaratkan bahwa dari rumpun ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya akan ada satu garis yang terjaga kesuciannya, yang tidak melakukan kezaliman, yang kelak akan melahirkan buah kerasulan, yang akan menghidupkan kembali مِّلَّة (millah) yakni agama nabi Ibrahim, memurnikan manasik-nya, dan mengimami أُمَّةً مُّسْلِمَةً (ummatan muslimatan, Umat Muslim). Di sinilah kita bisa dengan mudah memahami kenapa ada doa pertobatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail di ujung doanya di ayat sebelumnya (128).

Rupanya, doa itu adalah pagar terhadap generasi demi generasi agar garis tersebut benar-benar terjaga. Metoda penjagaan dan keterjagaan inilah yang Allah hendak sampaikan saat menceritakan prosesi kelahiran Nabi Isa dari seorang wanita suci bernama Maryam yang juga merupakan ‘hasil’ penjagaan dari generasi sebelumnya, yakni Keluarga Imran. Dalam Al-Quran surat Ali Imron Ayat 35-37 dan 47

$O!9# øŒÎ) ÏMs9$s% ßNr&tøB$# tbºtôJÏã Éb>u ÎoTÎ) ßNöxtR šs9 $tB Îû ÓÍ_ôÜt/ #Y§ysãB ö@¬7s)tGsù ûÓÍh_ÏB ( y7¨RÎ) |MRr& ßìŠÉK¡¡9$# ÞOŠÎ=yèø9$# ÇÌÎÈ   $£Jn=sù $pk÷Jyè|Êur ôMs9$s% Éb>u ÎoTÎ) !$pkçJ÷è|Êur 4Ós\Ré& ª!$#ur ÞOn=÷ær& $yJÎ/ ôMyè|Êur }§øŠs9ur ãx.©%!$# 4Ós\RW{$%x. ( ÎoTÎ)ur $pkçJø£Jy zOtƒötB þÎoTÎ)ur $ydäŠÏãé& šÎ/ $ygtG­ƒÍhèŒur z`ÏB Ç`»sÜø¤±9$# ÉOŠÅ_§9$# ÇÌÏÈ   $ygn=¬6s)tFsù $ygš/u @Aqç7s)Î/ 9`|¡ym $ygtFt7/Rr&ur $·?$t6tR $YZ|¡ym $ygn=¤ÿx.ur $­ƒÌx.y ( $yJ¯=ä. Ÿ@yzyŠ $ygøŠn=tã $­ƒÌx.y z>#tósÏJø9$# yy`ur $ydyZÏã $]%øÍ ( tA$s% ãLuqöyJ»tƒ 4¯Tr& Å7s9 #x»yd ( ôMs9$s% uqèd ô`ÏB ÏZÏã «!$# ( ¨bÎ) ©!$# ä-ãötƒ `tB âä!$t±o ÎŽötóÎ/ A>$|¡Ïm ÇÌÐÈ   ôMs9$s% Éb>u 4¯Tr& ãbqä3tƒ Í< Ó$s!ur óOs9ur ÓÍ_ó¡|¡ôJtƒ ׎|³o0 ( tA$s% Å7Ï9ºxŸ2 ª!$# ß,è=÷tƒ $tB âä!$t±o 4 #sŒÎ) #Ó|Ós% #\øBr& $yJ¯RÎ*sù ãAqà)tƒ ¼çms9 `ä. ãbqä3usù ÇÍÐÈ  





35. (ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui".

36. Maka tatkala isteri 'Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk."

37. Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

47. Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, Padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun." Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, Maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah Dia.

B.     Nilai-Nilai Pendidikan yang Terkandung

                  Ayat diatas mengandung penjelasan bahwasanya  perlu adanya usaha lahir maupun bathin dalam membentuk generasi baru diantaranya yakni menghias diri dengan amal sholihah dengan diimbangi usaha memohon kepada allah SWT untuk diberi keturunan yang memegang teguh ajarannya.

Dalam sistem pendidikan ayat tersebut mengandung variabel-variabel dari kegiatan belajar mengajar yaitu:

1. Pendidik

Dalam ayat tersebut, yang berperan sebagai pendidik adalah Rasul.[5][2] Di sini Allah menggunakan kata يُعَلِّمُهُم (yu’allimuɦum), yang artinya “mengajarkan kepada mereka”. Yang perlu kita garisbawahi di sini ialah kata يُعَلِّم (yu’allimu)-nya. Karena ini menunjukkan bahwa, dalam kaitannya dengan Kitab Suci, ‘profesi’ rasul ialah sebagai guru dalam seluruh pengertiannya (mengajarkan, mencontohkan, menuntunkan cara penerapannya), persis ‘profesi’.

2.  Peserta Didik

Peserta didik yang ada dalam ayat tersebut adalah umat nabi Muhammad SAW. Dimana Rasul akan mengajarkan orang-orang yang ummi (yang tidak mengerti baca tulis), menuntun orang-orang yang sesat kejalan kebaikan, dan menegakkan kebenaran di seluruh alam semesta.[6][3]

3.  Metode Pendidikan

Metode pendidikan terdapat pada, يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ (yatlŭw ‘alayɦim āyātika, menelaahkan kepada mereka ayat-ayat-Mu). Kata يَتْلُو (yatlŭw, menelaahkan) bermakna menguraikan sedemikian rupa sehingga penerima bisa memahaminya dengan benar, jadi bukan sekedar membacakan atau menyampaikan. Di Surat Yusuf ayat 108 dikatakan عَلَى بَصِيرَةٍ (‘alā bashĭyratin), dengan argumen yang bisa diterima oleh bashĭrah, oleh cernaan nalar insani atau akal budi (baik melalui telaah intelektual ataupun melalui serapan spiritual), sehingga penerima tidak punya celah untuk ‘lari’. Sehingga yang menolak, benar-benar hanyalah mereka yang tertutup pintu hati dan pikirannya; dan karenanya pantas disebut “kafir” (sengaja ingkar).

Jadi, pada ayat tersebut, metode pendidikan yang digunakan adalah dengan membacakan, mengajarkan, dan menyucikan (melarang mereka dari perbuatan dosa dan kejahatan).

4.  Materi pendidikan

Dalam ayat tersebut apa yang ditelaahkan atau yang diajarkan? Jawabannya: آيَاتِكَ (āyātika), ayat-ayat, tanda-tanda, petunjuk-petunjuk, atau alamat-alamat yang mengantarkan penerima mengenal dan memahami hakikat “ayat” tersebut dan hubungan singkronitasnya dengan Pemilik “ayat” alias Penciptanya. Dari sini diharapkan muncul kesadaran bertingkat, sesuai dengan kadar mujahadah dan martabat ruhani yang telah dicapainya. Untuk kalangan pemula (al-mubtadi), timbul pemahaman bahwa betul-betul لامعبودالاالله (lā ma’bŭwda illallaɦ, tidak ada yang pantas diibadahi selain Allah). Sementara untuk kalangan menengah (al-mutawassith), mereka sudah sampai pada faham bahwa bukan saja tidak ada yang pantas diibadahi selain Allah, tapi juga لامقصودالاالله (lā maqshŭwda illallaɦ, tidak ada yang pantas dituju selain Allah). Dan kalangan pemilik martabat paling tinggi (al-muntaɦā) sudah meyakini bahwa الاالله لامحبوب (lā mahbŭwba illallaɦ, tidak ada yang pantas dicintai selain Allah).

5.    Media Pendidikan

Media pendidikan terdapat pada, وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ (wa yu’allimuɦumul-kitāba wal-hikmah, dan mengajarkan kepada mereka Kitab Suci dan Hikmah). Beranjak dari kesadaran teologis setelah ‘menyaksikan’ tanda-tanda kebesaran Allah, setelah meyakini keberadaan-Nya, dan merasakan sentuhan-Nya, Rasul kemudian mengajari mereka Kitab Suci. Ini penting. Karena bagaimana mungkin seseorang meyakini Kitab Suci sebagai ‘wejangan’ Tuhan kalau pada saat yang sama yang bersangkutan tidak meyakini adanya Tuhan. Bisa diformulasikan begini: “Daya serap seseorang terhadap Kitab Suci berbanding lurus dengan kesadaran teologis orang itu.” Semakin sempurna kesadaran teologis seseorang semakin sempurna pula fahamannya terhadap Kitab Suci. Begitu juga sebaliknya. Jadi, media pendidikan yang ada dalam ayat tersebut adalah al-Kitab (al-Quran), dan al-Hikmah (Al-Sunnah).

6.    Kurikulum Pendidikan

Doanya singkat. Namun yang agak panjang disebutkan di dalamnya ialah tugas dari rasul tersebut. Ada tiga tugas pokok seorang rasul: menelaahkan kepada manusia ayat-ayat Allah, mengajarkan kepada mereka Kitab Suci dan Hikmah, dan mensucikan mereka. Di beberapa ayat (2:151, 3:164, dan 62:2) susunan ini dibalik, dengan menempatkan “mensucikan mereka” pada urutan kedua setelah “menelaahkan kepada manusia ayat-ayat Allah”. Susunan ini sekaligus semacam kurikulum yang memuat tema-tema pokok yang harus dilakukan oleh seorang rasul (atau pengganti pelaksana rasul, termasuk para ustad dan muballigh) karena sejalan dengan tuntutan fithrah manusia, sejalan dengan alur pertanyaan intelektual, sejalan dengan hasrat kerinduan spiritual.

7.    Tujuan Pendidikan

Dalam ayat tersebut, tujuan pendidikan yang hendak dicapai adalah untuk memberikan pemahaman tentang ajaran-ajaran yang ada dalam al-Quran dan al-Sunnah. Yaknitepat pada lafadz:  آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ (membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunah) serta menyucikan mereka.)

















































BAB III

          KESIMPULAN

·         Memohon keturunan yang sholeh

·         Terdapat variabel belajar mengajar yaitu:

1.      Pendidik

Dalam ayat tersebut, yang berperan sebagai pendidik adalah Rasul.  Di sini Allah menggunakan kata يُعَلِّمُهُم (yu’allimuɦum), yang artinya “mengajarkan kepada mereka umat nabi Muhammad SAW.

2.      Peserta Didik

Peserta didik yang ada dalam ayat tersebut adalah umat nabi Muhammad SAW. Dimana Rasul akan mengajarkan orang-orang yang ummi (yang tidak mengerti baca tulis), menuntun orang-orang yang sesat kejalan kebaikan, dan menegakkan kebenaran di seluruh alam semesta.

3.      Metode Pendidikan

Pada ayat tersebut, metode pendidikan yang digunakan adalah dengan membacakan, mengajarkan, dan menyucikan (melarang mereka dari perbuatan dosa dan kejahatan).

4.      Materi pendidikan

Materi pendidikannya adalah ayat-ayat, tanda-tanda, petunjuk-petunjuk yang terdapat dalam al-Quran dan al-Sunnah.

5.      Media Pendidikan

Media pendidikan terdapat pada, وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ (wa yu’allimuɦumul-kitāba wal-hikmah, dan mengajarkan kepada mereka Kitab Suci dan Hikmah).

6.      Kurikulum Pendidikan

Susunan kurikulum yang memuat tema-tema pokok yang harus dilakukan oleh seorang rasul (atau pengganti pelaksana rasul, termasuk para ustad dan muballigh) karena sejalan dengan tuntutan fithrah manusia, sejalan dengan alur pertanyaan intelektual, sejalan dengan hasrat kerinduan spiritual.











DAFTAR PUSTAKA

Aidh al-Qarni. 2007. Tafsir Muyassar (tarj. Tim Qisthi Press 2007). Jakarta: Qisthi Press.

Ibnu Katsir. Tafsir al-Qur’an al-‘adzim.

Jalaludin Al-Suyuthi. Tafsir Jalalain.

Sayyid Qutb. 2000. Tafsir fi Zilalil Quran (tarj. As’ad Yasin, dkk). Jakarta: Gema Insani.

الكتاب : تيسير الكريم الرحمن في تفسير كلام المنان المؤلف : عبد الرحمن بن ناصر بن السعدي المحقق : عبد الرحمن بن معلا اللويحق الناشر : مؤسسة الرسالة الطبعة : الأولى 1420هـ -2000 م عدد الأجزاء : 1 مصدر الكتاب : موقع مجمع الملك فهد لطباعة    المصحف الشريف [ ترقيم الكتاب موافق للمطبوع ، والصفحات مذيلة بحواشي المحقق ]    www.qurancomplex.com

الكتاب : تفسير الشعراوي

تفسير القطان الكتاب :


















[1][1] Jalaludin Al-Suyuthi, Tafsir Jalalain,
[2] الكتاب : تيسير الكريم الرحمن في تفسير كلام المنان المؤلف : عبد الرحمن بن ناصر بن السعدي المحقق : عبد الرحمن بن معلا اللويحق الناشر : مؤسسة الرسالة الطبعة : الأولى 1420هـ -2000 م عدد الأجزاء : 1 مصدر الكتاب : موقع مجمع الملك فهد لطباعة المصحف الشريف [ ترقيم الكتاب موافق للمطبوع ، والصفحات مذيلة بحواشي المحقق ]
www.qurancomplex.com


[3]. :69 تفسير القطان- ص
[4] 351 ص:  الكتاب : تفسير الشعراوي
[5][2] ‘Aidh al-Qarni, Tafsir Muyassar (tarj. Tim Qisthi Press 2007), Jakarta: Qisthi Press, h. 97.
[6][3] Sayyid Qutb, Tafsir fi Zilalil Quran (tarj. As’ad Yasin, dkk. 1421 H/2000 M)Jakarta: Gema Insani, h. 139-140

Tidak ada komentar: